Popular Posts

Saturday, December 8, 2012

Gangguan Ginjal Kronik

oleh Muamar Kadafi
Keperawatan FIK UMS


A. PENGERTIAN
Gagal ginjal kronik biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)
Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun. (Barbara C Long, 1996; 368)
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812)


B. ETIOLOGI
Penyebab GGK termasuk glomerulonefritis, infeksi kronis, penyakit vaskuler (nefrosklerosis), proses obstruksi (kalkuli), penyakit kolagen (luris sutemik), agen nefrotik (amino glikosida), penyakit endokrin (diabetes). (Doenges, 1999; 626)
Penyebab GGK menurut Price, 1992; 817, dibagi menjadi delapan kelas, antara lain:
• Infeksi misalnya pielonefritis kronik
• Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis
• Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis
• Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif
• Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,asidosis tubulus ginjal
• Penyakit metabolik misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis
• Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal
• Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.

C. PATOFISIOLOGI
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).
Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi tiga stadium yaitu:
• Stadium 1 (penurunan cadangan ginjal)
Di tandai dengan kreatinin serum dan kadar Blood Ureum Nitrogen (BUN) normal dan penderita asimtomatik.
• Stadium 2 (insufisiensi ginjal)
Lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak (Glomerulo filtration Rate besarnya 25% dari normal). Pada tahap ini Blood Ureum Nitrogen mulai meningkat diatas normal, kadar kreatinin serum mulai meningklat melabihi kadar normal, azotemia ringan, timbul nokturia dan poliuri.
• Stadium 3 (Gagal ginjal stadium akhir / uremia)
Timbul apabila 90% massa nefron telah hancur, nilai glomerulo filtration rate 10% dari normal, kreatinin klirens 5-10 ml permenit atau kurang. Pada tahap ini kreatinin serum dan kadar blood ureum nitrgen meningkat sangat mencolok dan timbul oliguri. (Price, 1992: 813-814)

D. MANIFESTASI KLINIS
1. Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369):
a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi
b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.
2. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
3. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
a. Sistem kardiovaskuler
• Hipertensi
• Pitting edema
• Edema periorbital
• Pembesaran vena leher
• Friction sub pericardial
b. Sistem Pulmoner
• Krekel
• Nafas dangkal
• Kusmaull
• Sputum kental dan liat
c. Sistem gastrointestinal
• Anoreksia, mual dan muntah
• Perdarahan saluran GI
• Ulserasi dan pardarahan mulut
• Nafas berbau amonia
d. Sistem muskuloskeletal
• Kram otot
• Kehilangan kekuatan otot
• Fraktur tulang
e. Sistem Integumen
• Warna kulit abu-abu mengkilat
• Pruritis
• Kulit kering bersisik
• Ekimosis
• Kuku tipis dan rapuh
• Rambut tipis dan kasar
f. Sistem Reproduksi
• Amenore
• Atrofi testis

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Suyono (2001), untuk menentukan diagnosa pada CKD dapat dilakukan cara sebagai berikut:
1. Pemeriksaan laboratorium
Menentukan derajat kegawatan CKD, menentukan gangguan sistem dan membantu menetapkan etiologi.
2. Pemeriksaan USG
Untuk mencari apakah ada batuan, atau massa tumor, juga untuk mengetahui beberapa pembesaran ginjal.
3. Pemeriksaan EKG
Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis, aritmia dan gangguan elektrolit

F. PENCEGAHAN
Obstruksi dan infeksi saluran kemih dan penyakit hipertensi sangat lumrah dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang membawa kerusakan dan kegagalan ginjal. Penurunan kejadian yang sangat mencolok adalah berkat peningkatan perhatian terhadap peningkatan kesehatan. Pemeriksaan tahunan termasuk tekanan darah dan pemeriksaan urinalisis.
Pemeriksaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu yang menjadi insufisiensi sampai menjadi kegagalan ginjal. Perawatan ditujukan kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna dan mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi, kehamilan). (Barbara C Long, 2001)

G. PENATALAKSANAAN
1. Dialisis (cuci darah)
2. Obat-obatan: antihipertensi, suplemen besi, agen pengikat fosfat, suplemen kalsium, furosemid (membantu berkemih)
3. Diit rendah protein dan tinggi karbohidrat
4. Transfusi darah
5. Transplantasi ginjal

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Doenges (1999) dan Lynda Juall (2000), diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien CKD adalah:
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat.
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan udem sekunder: volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O.
3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah.
4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder, kompensasi melalui alkalosis respiratorik.
5. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai O2 ke jaringan menurun.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan.


I. INTERVENSI
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat
Tujuan:
Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :
mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler
Intervensi:
a. Auskultasi bunyi jantung dan paru
R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur
b. Kaji adanya hipertensi
R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem aldosteron-renin-angiotensin (disebabkan oleh disfungsi ginjal)
c. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10)
R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri
d. Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas
R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia

2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder : volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O)
 Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output
Intervensi:
a. Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit tanda-tanda vital
b. Batasi masukan cairan
R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran urin, dan respon terhadap terapi
c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan
R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan
d. Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan dan haluaran
R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output

3.Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah
Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan BB stabil
Intervensi:
a. Awasi konsumsi makanan / cairan
R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi
b. Perhatikan adanya mual dan muntah
R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi
c. Beikan makanan sedikit tapi sering
R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan
d. Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan
R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial
e. Berikan perawatan mulut sering
R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang dapat mempengaruhi masukan makanan

4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik
Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil
Intervensi:
a. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles
R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret
b. Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam
R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2
c. Atur posisi senyaman mungkin
R: Mencegah terjadinya sesak nafas
d. Batasi untuk beraktivitas
R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia

5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis
Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil :
- Mempertahankan kulit utuh
- Menunjukan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan kulit
Intervensi:
a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan kadanya kemerahan
R: Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan dekubitus / infeksi.
b. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa
R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan
c. Inspeksi area tergantung terhadap udem
R: Jaringan udem lebih cenderung rusak / robek
d. Ubah posisi sesering mungkin
R: Menurunkan tekanan pada udem , jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia
e. Berikan perawatan kulit
R: Mengurangi pengeringan , robekan kulit
f. Pertahankan linen kering
R: Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit
g. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritis
R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera
h. Anjurkan memakai pakaian katun longgar
R: Mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit

6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan
Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi
Intervensi:
a. Pantau pasien untuk melakukan aktivitas
b. Kaji fektor yang menyebabkan keletihan
c. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
d. Pertahankan status nutrisi yang adekuat


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC
Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC




Saturday, December 1, 2012

Contoh penerapan peran perawat


  oleh Purwiyunita DKK
Keperawatan FIK UMS


Contoh penerapan peran perawat caregiver dan klien advocad di klinik dan di komunitas.
Contoh kasus di klinik:
Ada pasien fraktur post amputasi dirawat di bangsal bedah RS. Narsis. Ini adalah hari kedua post amputasi, semenjak klien sadar kakinya di amputasi, klien teriak teriak tidak jelas, menyesali keadaanya, meskipun sebelumnya sudah menyepakati informed concent klien merasa tidak menerimanya, perawat satu persatu mendatanginya untuk menenangkannya, tetapi klien tidak bisa tenang. Pada waktu injeksipun klien dipengangi oleh beberapa orang supaya obat masuk. Perawat jaga tampak malas untuk mengganti alat tenun, sehingga tampak dekil. Hari ke empat klien menjalani operasi lagi, awalnya tidak mau tetapi dibujuk keluarga, post op, klien menjerit histeris lagi tetapi tidak berlangsung lama, kemudian perawat supervise masuk berniat untuk menenangkan, perawat kaget dengan kondisi kamar klien yang tampak tidak diurus, dan bisa menimbulkan infeksi, keluarga juga mengutarakan atas buruknya pelayanan di rumah sakit. Akhirnya perawat supervise tadi berjanji akan menindak lanjuti masalah ini. àperawat supervise tadi mengadakan diskusi terkait hal ini kepada manager, tentang pola asuhan yang demikian buruk, pendekatan spiritual, social, bio, serta psikologi tidak tercermin di sini. Critical thinking dipertanyakan, dan setelah catatan keperawatan di cek ternyata tidak sesuai dengan kenyataan pada klien. Pengkajian, intervensi dan implementasi serta evaluasi hanya karangan belaka, hal ini sebenarnya sangatlah penting karena kondisi klien yang rentan akan infeksi. Perawat supervise tadi bilang, “anda sebagai klien berhak complain terhadap hal apa saja terkait perawatan baik oleh dokter maupun perawat, karena itu adalah hak anda”. Perawat supervise tadi memberi ultimatum kepada perawat pelaksana kalau hal ini tidak segera dibenahi, maka akan dibawa urusannya di dewan direksi. Dan akhirnya kepala ruang sebagai penanggungjawab akan menghandle langsung proses keperawatan, yang benar benar dilakukan oleh tim perawat

Contoh kasus di komunitas:.
Di desa majumundursuka, terdapat pasien terbanyak TB. Tim keperawatan komunitas datang akan melakukan pengkajian terkait kondisi agregat penderita TB yang demikian banyak. Pengkajian selain dilakukan pemeriksaan fisik juga dilakukan pemeriksaan kondisi rumah. Banyak warga yang menginginkan secara pasti bagaimana pengobatan TB. Akhirnya dilakukan penyuluhan tentang alur pengobatan TB dan segala aspek terkait. Perawat tadi juga menjelaskan menjelaskan tentang system administrasi kesehatan mulai dari asuransi kesehatan, jaminan kesehatan dari pemerintah. Dia juga memberikan kesempatan bila warga perlu didampingi, akan di dampingi, dan sewaktu waktu ada yang janggal dengan system administrasi akan dibantu penuntasannya. Bila selama proses pengobatan baik di puskesmas dan di rumah sakit tidak menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, perawat tadi akan memberikan solusi tentang sarana-sarana kesehatan beserta fasilitas yang ada sesuai dengan kemampuannya. Hari hari selanjutnya berfokus pada pengkajian dan penggalian masalah untuk meminimalkan masalah berlanjut seperti kondisi lingkungan rumah, sanitasi, dan kebiasaan yang buruk seperti merokok. Setiap keluarga diberi solusi untuk memodifikasi kondisi rumah semampunya dan hal hal yang bersifat segera seperti atap (penerangan), jendela, jamban/pengairan. Proses keperawatan berlanjut sampai evaluasi.



peran perawat


 oleh Purwiyunita DKK
Keperawatan FIK UMS


Peran perawat
  1. Caregiver (pemberi layanan)
Sebagai pemberi asuhan keperawatan (Caregiver) Sebagai pelaku/pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat memberikan pelayanan keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada klien, menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi : melakukan pengkajian dalam upaya mengumpulkan data dan informasi yang benar, menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan hasil analisis data, merencanakan intervensi keperawatan sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul dan membuat langkah/cara pemecahan masalah, melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang ada dan melakukan evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan.
Pertama dan terpenting adalah peraturan pemberi pelayanan. Dalam lingkungan komunitas, anda menangani dan merawat kesehatan komunitas. Anda menerapkan proses keperawatan dalam pendekatan cara berpikir kritis untuk menentukan pilihan, keperawatan individual merawat klien tertentu beserta keluarga. Selain itu, anda menyesuaikan pelayanan sesuai komunitas klien sehingga meningkatkan kemungkinan keberhasilan jangka panjang. Bersama dengan klien dan keluarganya, anda membangun hubungan perawatan untuk memperkenalkan kebutuhan pelayanan kesehatan yang actual dan potensial serta mengetahui sumber daya komunitas yang diperlukan. Sebagai seorang pemberi pelayanan anda akan membantu membangun suatu komunitas sehat yang aman dan memiliki unsur yang memungkinkan masyarakat untuk mencapai dan mempertahankan kualitas dan fungsi hidup yang tinggi (Potter & Perry, 2009).
Pendapat lain tentang peran perawat sebagai caregiver adalah:
a.       memberikan pelayanan keperawatan kepada individu keluarga kelompok/masyarakat sesuai diagnosis masalah yang bersifat sederhana sampai masalah yang kompleks.
b.      memperhatikan individu dalam kompleks sesuai kehidupan klien, perawat harus memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan dari klien.

  1. Klien Advokad
Sebagai pembela untuk melindungi klien (Client advocate) Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun profesional. Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam menjalankan peran sebagai advokat (pembela klien) perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.
Dukungan klien saat ini mungkin lebih penting dalam praktik berbasis komunitas karena kebingungan seputar jalan masuk ke fasilitas pelayanan kesehatan. Klien sering memerlukan seseorang untuk membantu mereka menjalani system, mengetahui dimana mendapatkan fasilitas, bagaimana mencapai fasilitas yang diperlukan, dan bagaimana mengikuti melalui informasi yang mereka terima. Dalam lingkungan komunitas, anda sering menjadi seseorang yang menunjukkan pendapat klien untuk mendapatkan sumber daya yang sesuai. Pertanggungjawaban untuk memberi informasi yang penting kepada klien untuk membuat keputusan dalam memilih dan menginginkan fasilitas yang sesuai. Selain itu, perlu juga bagi anda untuk mendukung atau menolak keputusan klien (Potter & Perry, 2009).
Pendapat lain tentang peran perawat advocad adalah:
a.       melindungi hak atas pelayanan sebaik-baiknya
b.      melindungi hak atas intervensi atas penyakitnya
c.       menjaga privasi klien
d.      menerima ganti rugi akibat kelalaian




 Pendapat kami mengenai peran perawat
1.      Caregiver
Terpenting dari peran perawat caregiver menurut kami adalah totalitas biopsikososiospiritual dengan pendekatan holistic. Asuhan keperawatan yang matang dan penerapan yang cerdas dan hal ini butuh critical thinking selama proses keperawatan berlangsung. Memanfaatkan sumber daya yang ada di komunitas untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan hal ini butuh kreatifitas. Perencanaan yang sesuai dengan masalah baik jangka panjang maupun jangka pendek dan diprioritaskan dari yang bersifat actual sampai potensial. Seorang perawat pemberi pelayanan seharusnya memiliki prinsip-prinsip, pertama mission statement, kedua character building, ketiga self control, keempat strategic collaboration dan yang terakhir total action. Pelayanan di komunitas butuh managemen dari beberapa hal penting di atas sehingga terwujud well organized principle.
2.      Klien advokad
Menurut kami tentang peran perawat klien advokad yaitu peran perawat disini mengawal klien dengan hak hak klien mendapatkan pelayanan yang profesional., melindungi hak atas intervensi atas penyakitnya, sehingga bila ada kelalaian atas tindakan medis maupun keperawatan kita dapat membela, memberi dukungan, dan ikut menyelesaikan masalah terkait hal tersebut. Menjaga privasi klien termasuk di dalamnya karena itu adalah hak klien, jadi kerahasiannya agar terjaga dari pihak luar yang dianggap mengancam. Klien advocad juga memberi solusi atas masalah, mendampingi klien dalam pengambilan keputusan dalam hal memilih dan menginginkan fasilitas yang sesuai. Hal tersebut bila terjadi di lingkungan komunitas, masyarakat sering meminta pendapat terkait fasilitas kesehatan, bagaimana terlibat di dalamnya, dimana mendapatkannya, bagaimana mengikuti dari informasi yang mereka terima, tata cara dan prosedur apa yang sesuai dengan system yang sudah ada, perlu kita kawal supaya hasil yang diharapkan sesuai dengan hak mereka mendapatkan pelayanan yang berkualitas.